PENGENALAN PILSAFAT
A. Pengertian
Filsafat
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab
yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio.
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan
konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan
sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala
sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh
dengan segala hubungan.
menurut beberapa tokoh adalah
sebagai berikut :
Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat
tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.
Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa
kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan
demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab
telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
Cicero ( (106 – 43 SM ) : filsafat
adalah sebagai “ibu dari semua seni “( the mother of all the arts“ ia juga
mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )
Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) : filsafat
sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi
dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan.
Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran
dari seluruh kenyataan.
Paul Nartorp (1854 – 1924 ) : filsafat
sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan
manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya .
Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) : Filsafat
adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan
yang didalamnya tercakup empat persoalan.
Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya
metafisika )
Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika
)
Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama )
Apakah
yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi )
Notonegoro : Filsafat menelaah hal-hal yang
dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah ,
yang disebut hakekat.
Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang
sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang
kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.
Sidi Gazalba : Berfilsafat ialah mencari
kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di
masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.
Harold H. Titus (1979 ) : (1)
Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam
yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik
atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; (2)
Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; (3) Filsafat
adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan
pengertian ( konsep ); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian
manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.
Hasbullah Bakry : Ilmu Filsafat adalah ilmu yang
menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta
dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap
manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.
B.
ILMU
PENGETAHUAN SEBAGAI SKETSA UMUM PENGANTAR UNTUK MEMEHAMI FILSAFAT ILMU
Pengertian
Filsafat Ilmu
Menurut The
Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap
persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun
hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu
merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya
bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan
ilmu.
Filsafat
ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat
ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah
mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama.
Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru.
Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan
(sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam
perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi
pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada
dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu,
tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan
perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu
bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu
kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau
mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento
Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu
yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek
sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang
filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah
hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Peranan
filsafat dalam Ilmu pengetahuan
Semakin banyak manusia tahu, semakin banyak pula
pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Manusia ingin tahu tentang asal dan
tujuan hidup, tentang dirinya sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasannya,
dan berbagai hal lainnya. Sikap seperi ini pada dasarnya sudah menghasilkan
pengetahuan yang sangat luas, yang secara metodis dan sistematis dapat dibagi
atas banyak jenis ilmu.
Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia
dalam mengorientasikan diri dalam dunia dan memecahkan berbagai persoalan
hidup. Berbeda dari binatang, manusia tidak dapat membiarkan insting mengatur
perilakunya. Untuk mengatasi masalah-masalah, manusia membutuhkan kesadaran
dalam memahami lingkungannya. Di sinilah ilmu-ilmu membantu manusia
mensistematisasikan apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses
pencariannya.
Pada abad modern ini, ilmu-ilmu pengetahuan telah
merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena
ilmu-ilmu pengetahuan banyak membantu manusia mengatasi berbagai masalah
kehidupan. Prasetya T. W. dalam artikelnya yang berjudul “Anarkisme dalam Ilmu
Pengetahuan Paul Karl Feyerabend” mengungkapkan bahwa ada dua alasan mengapa
ilmu pengetahuan menjadi begitu unggul. Pertama, karena ilmu pengetahuan
mempunyai metode yang benar untuk mencapai hasil-hasilnya. Kedua, karena
ada hasil-hasil yang dapat diajukan sebagai bukti keunggulan ilmu pengetahuan. Dua alasan yang diungkapkan Prasetya tersebut, dengan
jelas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memainkan peranan yang cukup penting
dalam kehidupan umat manusia.
Akan tetapi, ada pula tokoh yang justru anti terhadap
ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh yang cukup terkenal dalam hal ini adalah
Paul Karl Feyerabend. Sikap anti ilmu pengetahuannya ini, tidak berarti anti
terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi anti terhadap kekuasaan ilmu
pengetahuan yang kerap kali melampaui maksud utamanya. Feyerabend menegaskan
bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak menggunguli bidang-bidang dan bentuk-bentuk
pengetahuan lain. Menurutnya, ilmu-ilmu pengetahuan menjadi lebih unggul karena
propaganda dari para ilmuan dan adanya tolak ukur institusional yang diberi
wewenang untuk memutuskannya.
Sekalipun ada berbagai kontradiksi tentang keunggulan
ilmu pengetahuan, tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya
memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat. Hal ini tidak
terlepas dari peranan ilmu pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi
masalah-masalah hidupnya, walaupun kadang-kadang ilmu pengetahuan dapat pula
menciptakan masalah-masalah baru.
Meskipun demikian, pada kenyataannya peranan ilmu
pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi masalah kehidupannya sesungguhnya
terbatas. Seperti yang telah diungkapkan pada bagian pendahuluan, keterbatasan
itu terletak pada cara kerja ilmu-ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri
pada tujuan atau bidang tertentu. Karena pembatasan itu, ilmu pengetahuan tidak
dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan manusia. Untuk
mengatasi masalah ini, ilmu-ilmu pengetahuan membutuhkan filsafat. Dalam hal
inilah filsafat menjadi hal yang penting.
C.Verhaak dan R.Haryono Imam dalam bukunya yang
berjudul Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, menjelaskan
dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu.
Pertama, filsafat ikut menilai apa yang dianggap “tepat” dan “benar” dalam
ilmu-ilmu. Apa yang dianggap tepat dalam ilmu-ilmu berpulang pada ilmu-ilmu itu
sendiri. Dalam hal ini filsafat tidak ikut campur dalam bidang-bidang ilmu itu.
Akan tetapi, mengenai apa kiranya kebenaran itu, ilmu-ilmu pengetahuan tidak
dapat menjawabnya karena masalah ini tidak termasuk bidang ilmu mereka. Hal-hal
yang berhubungan dengan ada tidaknya kebenaran dan tentang apa itu kebenaran
dibahas dan dijelaskan oleh filsafat. Kedua, filsafat memberi penilaian
tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan manusia guna mencapai
kebenaran.
Dari dua penilaian filsafat atas
kebenaran ilmu-ilmu di atas, dapat dillihat bahwa ilmu-ilmu pengetahuan
(ilmu-ilmu pasti) tidak langsung berkecimpung dalam usaha manusia menuju
kebenaran. Usaha ilmu-ilmu itu lebih merupakan suatu sumbangan agar pengetahuan
itu sendiri semakin mendekati kebenaran. Filsafatlah yang secara langsung
berperan dalam usaha manusia untuk mencari kebenaran. Di dalam filsafat,
berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan kebenaran dikumpulkan dan diolah
demi menemukan jawaban yang memadai.
Franz Magnis Suseno mengungkapkan
dua arah filsafat dalam usaha mencari jawaban dari berbagai pertanyaan sebagai
berikut: pertama, filsafat harus mengkritik jawaban-jawaban yang tidak
memadai. Kedua, filsafat harus ikut mencari jawaban yang benar. Kritikan dan jawaban yang diberikan filsafat sesungguhnya
berbeda dari jawaban-jawaban lain pada umumnya. Kritikan dan jawaban itu harus
dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Pertanggungjawaban rasional pada
hakikatnya berarti bahwa setiap langkah harus terbuka terhadap segala
pertanyaan dan sangkalan, serta harus dipertahankan secara argumentatif dengan
argumen-argumen yang objektif. Hal ini berarti bahwa kalau
ada yang mempertanyakan atau menyangkal klaim kebenaran suatu pemikiran,
pertanyaan dan sangkalan itu dapat dijawab dengan argumentasi atau
alasan-alasan yang masuk akal dan dapat dimengerti.
Dari berbagai penjelasan di atas, tampak jelas bahwa
filsafat selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat
dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil
berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan
dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara
rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa
harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi
demi mencapai kebenaran yang dicari.
Inilah yang menunjukkan kekhasan filsafat di hadapan
berbagai ilmu pengetahuan yang ada. Filsafat selalu terbuka untuk berdialog dan
bekerjasama dengan berbagai ilmu pengetahuan dalam rangka pencarian akan
kebenaran. Baik ilmu pengetahuan maupun filsafat, bila diarahkan secara tepat
dapat sangat membantu kehidupan manusia.
Membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang
terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. Kearifan memperbaiki
paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan
seiring dengan tantangan zaman, karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan
dirinya sendiri, tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia
Hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia
didominasi oleh pendekatan filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan
melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir
ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan.antara ilmu Pengetahuan dan
ilmu Filsafat ada persamaan dan perbedaannya.Ilmu Pengetahuan bersifat
Posterior kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara
berulang-ulang sedangkan Filsafat bersifat priori kesimpulannya ditarik tanpa
pengujian,sebab Filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti yang
dimiliki ilmu karena Filsafat bersifat Spekulatif.Disamping adanya perbedaan
antara ilmu dengan filsafat ada sejumlah persamaan yaitu sama-sama mencari
kebenaran.Ilmu memiliki tugas melukiskan filsafat bertugas untuk menafsirkan
kesemestaan aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan
fakta sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana
sesungguhnya fakat itu darimana awalnya dan akan kemana akhirnya
C. Fenomenologi
Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Secara
epistemologi dalam gejala terbentuknya pengetahuan manusia itu, yaitu antara
kutub si pengenal dan kutub yang dikenal, atau antara subyek dan obyek.
Walaupun
secara tegas keduanya berbeda, akan tetapi untuk membentuk sebuah pengetahuan
keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain, dan keduanya wajib ada karena
merupakan suatu kesatuan asasi bagi terwujudnya pengetahuan manusia.
Dalam hal
ini pengetahuan dan ilmu pengetahuan, subyek adalah manusia dengan akal
budinya, sedangkan obyek adalah kenyataan yang diamati dan dialami di alam
semesta ini. Suatu kenyataan bahwa supaya ada pengetahuan, subyek harus terarah
kepada obyek, dan sebaliknya obyek harus terbuka dan terarah kepada subyek.
Pengetahuan
adalah peristiwa yang terjadi dalam diri manusia. Maka tanpa ingin meremehkan
peran penting dari obyek pengetahuan, manusia sebagai subyek pengetahuan
memegang peranan penting. Keterarahan manusia terhadap obyek jadinya merupakan
faktor yang sangat menentukan bagi munculnya pengetahuan manusia.
Pengetahuan
terwujud kalau manusia sendiri adalah bagian dari obyek. Dari realitas alam
semesta ini, berkat unsure jasmaniyah, manusia mampu menangkap obyek yang ada
di sekitarnya karena tubuh jasmani manusia adalah bagian dari realitas alam
semesta ini, serta dengan bantuan jiwa dan akal budinya, manusia mampu
mengangkat pengetahuan abstrak tentang berbagai obyek lain serta bersifat
temporal, konkrit, jasmani-inderawi tadi ke tingka abstrak dan karena itu
universal.
Pengetahuan
manusia tidak hanya berkaitan dengan obyek konkrit, khusus yang dikenalnya
melalui pengamatan inderawinya, melainkan juga melalui itu dimungkinkan untuk
sampai pada pengetahuan abstrak tentang berbagai obyek lain secara teoritis
dapat dijangkau oleh akal budi manusia.
Pengetahuan
manusia yang bersifat umum dan universal itulah memungkinkan untuk dirumuskan
dan dikomunikasikan dalam bahasa yang bersifat umum dan universal untuk bias
dipahami oleh siapa saja dari waktu dan tempat mana saja.
Berkat
refleksi ini pula pengetahuan yang semula bersifat langsung dan spontan,
kemudian diatur dan dilakukan secara sistematis sedemikian rupa, sehingga
isinya dapat dipertanggungjawabkan, atau dapat pula dikritik dan dibela, maka
lahirlah apa yang kita kenal sebagai Ilmu Pengetahuan.
Jadi Ilmu
Pengetahuan muncul karena apa yang sudah diketahui secara spontan dan langsung
tadi, disusun dan diatur secara sistematis dengan menggunakan metode tertentu
yang bersifat baku.
D.
FILSAFAT PENGETAHUAN DAN ILMU
PENGETAHUAN
Filsafat adalah studi tentang
seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan
dalam konsep mendasar.[1] Filsafat tidak didalami dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan
alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu
dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak
diperlukan logika berpikir dan logika bahasaPengetahuan adalah informasi atau
maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk,
tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip
danprosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki.
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.[1] Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.[2]
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki.
Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.[1] Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.[2]
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.
PERBEDAAN FILSAFAT, PENGETAHUAN
DAN ILMU PENGETAHUAN
FILSAFAT PENGETAHUAN ILMU PENGETAHUAN
Mencoba merumuskan pertanyaan atas jawaban. Mencari prinsip-prinsip umum, tidak membatasi segi pandangannya bahkan cenderung memandang segala sesuatu secara umum dan keseluruhan. Segi-segi yang dipelajari dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu pengetahuan adalah penguasaan lingkungan hidup manusia.
Menilai obyek renungan dengan suatu makna, misalkan , religi, kesusilaan, keadilan dsb. Tidak menilai obyek dari suatu sistem nilai tertentu. Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental.
Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu. Bertugas memberikan jawaban. Ilmu pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris.
FILSAFAT PENGETAHUAN ILMU PENGETAHUAN
Mencoba merumuskan pertanyaan atas jawaban. Mencari prinsip-prinsip umum, tidak membatasi segi pandangannya bahkan cenderung memandang segala sesuatu secara umum dan keseluruhan. Segi-segi yang dipelajari dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu pengetahuan adalah penguasaan lingkungan hidup manusia.
Menilai obyek renungan dengan suatu makna, misalkan , religi, kesusilaan, keadilan dsb. Tidak menilai obyek dari suatu sistem nilai tertentu. Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental.
Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu. Bertugas memberikan jawaban. Ilmu pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris.
PERSAMAAN FILSAFAT, PENGETAHUAN
DAN ILMU PENGETAHUAN
Ketiganya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai keakar-akarnya.
Ketiganya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukan sebab-sebanya.
Ketiganya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan.
Ketiganya mempunyai metode dan siStem.
Ketiganya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia (objektivitas), akan pengetahuan yang lebih mendasar.
Ketiganya mencari rumusan yang sebaik-baiknya menyelidiki objek selengkap-lengkapnya sampai keakar-akarnya.
Ketiganya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukan sebab-sebanya.
Ketiganya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan.
Ketiganya mempunyai metode dan siStem.
Ketiganya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia (objektivitas), akan pengetahuan yang lebih mendasar.
E.
FOKUS FILSAFAT PNETAHUAN
Ilmu
pengetahuan merupakan karya budi yang logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan
logika dari seorang kopernikus, suatu gagasan besar tentang heliosentrisme
tidak akan muncul. Begiti juga halnya jika kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan
lain. Metode-metode ilmu pengetahuan adalah metode-metode yang logis karena
ilmu pengetahuan mempraktekan logika. Namun selain logika temuan-temuan dalam
ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh akan budi manusia yang terbuka pada
realitis. Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka
logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu
pengetahuan.
Tak
pernah ada imajinasi tanpa logika dalam ilmu pengetahuan. Keduannya akan
berjalan bersamaan. Namun pendekatan pertama tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan
telah berkembang sebagai bagian dari hidup kita sebagai manusia dalam
masyarakat. Dengan alasan itu, filsafat ilmu pengetahuan pelu mengarahkan diri
selain kepada pembicaraan tentang masalah metode ilmu pengetahuan juga harus
berbicara tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat. Implikasi
sosial dan etis dari ilmu pengetahuan akan dibicarakan dalam konteks ini. Topik
yang dibicarakan disini antara lain adalah hubungan antara ilmu pengetahuan
dengan life-world, antara ilmu pengetahuan dan politik, bagaimana
harus membangun ilmu pengetahuan dalam masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar