A.Manfaat belajar filsafat limu penetahuan
a) Filsafat
berguna untuk memuaskan keinginan tahu individu yang sifatnya sederhana
(belum complicated). Aspek inilah yang membuat manusia berbeda dari
binatang. Pada taraf tertentu, kera misalnya, dapat berpikir, dengan misalnya
mempertimbangkan adanya tongkat yang ada didekatnya yang dapat digunakan untuk
mencapai pisang yang tergantung dalam sebuah ruangan. Meskipun demikian, kera
tetap tidak dapat berpikir lebih jauh dari determinasi alat atau tongkat ini.
Kera tidak dapat menghubungkan pikirannya dengan pengalaman pemikiran yang
telah terjadi di masa lampau, apalagi memproyeksikan pemikirannya secara
visioner ke masa depan. Hanya manusia yang dapat berpikir dalam ruang dan waktu
tertentu.
Selain itu, di sini juga dapat
dikatakan bahwa selama hidup—dari masa kanak-kanak sampai meninggal
dunia—manusia harus melewati dua tahap pengenalan (kesadaran) yang penting,
yakni tahap keadaan ketidaktahuan (the state of innocence) dan tahap
kehilangan ketidaktahuan (the innocence lost). Keadaan ketidaktahuan
pada masa kanak-kanak sebetulnya penuh dengan keinginantahu (curiosity)
yang menempatkan masa kanak-kanak sebagai tahap yang penuh dengan pertanyaan.
Di sini dapat disimpulkan, bahwa jika filsafat memiliki asal-muasal, maka
asalnya tentulah pada masa kanak-kanak yang giat mengajukan pertanyaan
tersebut. Pertanyaan dan keingintahuan anak-anak ini apabila dimatikan atau
dijawab secara sangat otoritatif dan ideologis akan mematikan dan menghentikan
kemampuan anak-anak untuk bertanya. Inilah yang dimaksud dengan keadaan the
innocence lost tersebut.
b) Filsafat
dapat membantu individu untuk menemukan prinsip-prinsip yang benar yang sangat
bermanfaat dalam mengarahkan hidup dan perilakunya. Di sini kita
berhadapan dengan peran dari cabang filsafat yang namanya filsafat moral atau
etika. Dengan bantuan pemikiran filsafat moral (etika), individu semakin
mendalami hidupnya, mempertanyakan secara moral seluruh tindakannya dan
menetapkan prinsip-prinsip yang baik bagi hidupnya. Dengan ini individu
membebaskan diri dari kedangkalan hidup atau hidup yang hanya menuruti
keinginan dari luar saja, kehidupan tanpa subjektivitas.
c)
Filsafat sangat membantu individu untuk memperdalam hidupnya.
Filsafat hukum misalnya, membantu manusia mengintensifkan makna dari hukum bagi
masyarakat pada umumnya dan para praktisi hukum itu sendiri. Misalnya dalam
memahami keterbatasan dari hukum positif dan pentingnya rasa keadilan
masyarakat yang harus dihormati dan dijunjung tinggi dalam setiap keputusan
hukum. Sementara itu, filsafat ilmu pengetahuan membantu individu (ilmuwan)
semakin mendalami ilmunya. Tidak jarang terjadi bahwa semakin seseorang
mendalami ilmunya filsafat, semakin ia mampu mengatasi disiplin keilmuannya
yang empiris dan metodis dan memasuki dunia yang non-empiris, tetapi yang
menarik akal budi dan menghantui batinnya. Albert Einstein misalnya, tidak
hanya menjadi seorang ilmuwan (ahli fisika) murni. Ia adalah seorang ilmuwan
dan filsuf. Einstein bahkan berani mengatakan: “Science without religion is
lame, religion without science is blind.”[2] Tidak hanya
itu. Filsafat seni (estetika) memampukan seseorang untuk melihat segala sesuatu
dalam kerangka yang sangat pribadi. Estetika memfungsikan dan memperdalam
penginderaan manusia. Estetika memampukan individu untuk melihat dunia dengan
mata seorang seniman, yakni melihatnya secara sangat personal.
Sementara itu, dari segi manfaat
atau kegunaan bagi masyarakat, beberapa hal dapat dikatakan mengenai manfaat
filsafat ini.
a)
Prinsip-prinsip atau pemikiran filsafat membentuk organisasi sosial berdasarkan
basis atau fondasi tertentu yang sifatnya permanen. Misalnya
institusi-institusi sosial yang berdasarkan hukum-hukum positif tertentu yang
telah disepakati bersama.
b)
Filsafat sosial terdiri dari serangkaian prinsip-prinsip atau hukum-hukum yang
menuntut keyakinan dan penerimaan atas kebenaran mereka. Selain itu, tentu saja
juga persoalan dimensi ketaatan. Ambil saja beberapa contoh. Negara Amerika
Serikat mendasarkan hidup bersama sebagai bangsa dan negara pada
prinsip-prinsip American Declaration of Independence yang sangat
dipengaruhi oleh gagasan dan pemikiran dua filsuf besar, yakni John Lock dan
Montesquieu. Uni Soviet mendasarkannya pada filsafat dan ideologi
Marxisme-Leninisme, dan Indonesia mendasarkannya pada filsafat dan ideologi
Pancasila.
Semua yang telah dikatakan di atas
merupakan manfaat dari mempelajari filsafat secara umum. Nah, sekarang apa
manfaat dari mempelajari filsafat ilmu pengetahuan? Ada paling kurang 4 manfaat
yang dapat dikemukakan di sini.[3]
1.
Bersama mata kuliah filsafat lainnya, filsafat ilmu
pengetahuan membantu mahasiswa untuk semakin kritis dalam sikap ilmiahnya.
Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan, mahasiswa menjadi sangat kritis terhadap
segala pandangan, keyakinan, dan teori-teori yang dihadapinya.
2.
Filsafat ilmu pengetahuan membantu mahasiswa untuk
menjadi seorang ilmuwan yang andal kelak di kemudian hari. Dengan mendalami
filsafat ilmu pengetahuan diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan
analisis ilmiahnya berdasarkan metode-metode ilmiah tertentu. Dalam menggeluti
dan mengembangkan ilmunya, seseorang dibantu oleh pemikiran filsafat ilmu
pengetahuan untuk tetap menempatkan realitas sebagai tanda tanya dan bukan
tanda seru, dan untuk selalu menemukan jalan pemecahan terbaik atas
masalah-masalah.
3.
Pemikiran-pemikiran filsafat ilmu pengetahuan sangat
membantu mahasiswa dalam pekerjaannya di kemudian hari. Bukankah setiap
pekerjaan adalah upaya untuk memecahkan masalah tertentu yang kongkret? Setiap
pekerjaan senantiasa bergerak dalam 3 tataran utama, yakni tataran pengetahuan
dan keterampilan (keahlian), tataran pemecahan masalah, dan tataran manfaat
(nilainya bagi kehidupan). Pemikiran-pemikiran filsafat ilmu pengetahuan sangat
membantu dalam menjawab pertanyaan apa yang harus diketahui atau dikuasai
(tataran 1), bagaimana pengetahuan atau keterampilan atau keahlian tersebut
dicapai (tataran 2), dan apa manfaat (nilai) dari pemecahan masalah tersebut
bagi kehidupan individu dan sosial.
4.
Pemikiran filsafat ilmu pengetahuan membantu
memecahkan persoalan-persoalan yang ditimbulkan modernisme, seperti masalah
kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Masalah-masalah tersebut ternyata
tidak dapat semata-mata diselesaikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bahkan terkesan sains dan teknologi justeru dapat menghancurkan manusia itu
sendiri. Filsafat banyak kali muncul dengan suara lantang, meneriakkan
dihentikannya penghancuran dunia dan manusia.
B. RUANG LINGKUP DAN KEDUDUKAN FILSAFAT
Ruanglingkup dan kedudukan filsafat ilmu
Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu . Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri .
1. Epistemologi.
Epistemology (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
c. Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d. Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.
e. Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melekukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.
2. Ontologi
Ontology merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
3. Aksiologi
Aksilogi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.
Pertanyaan di wilayah ini menyangkut, antara lain:
a) Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?
b) Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?
c) Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
d) Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional?
Filsafat ilmu dikenal sebagai disiplin tersendiri pada abad ke-20 sebagai akibat profesionalisasi dan spesialisasi ilmu-ilmu alam . Berfikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai pada hakikat, atau berpikir secara global (menyeluruh), atau berpikir dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berfikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berfikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Bahasan yang di cerna oleh ilmu filsafat sangat luas cakupannya. Poin yang utama ditujunya adalah mencari hakikat kebenaran segala sesuatu. Baik dalam kebenaran berfikir ( Logika ), kebenaran tingkah laku (Etika) Maupun dalam mencari hakikat sesuatu yang ada dibalik alam nyata (metafisika), sehingga persoalannya adalah apakah sesuatu itu hakiki (benar) atau maya (palsu).
Jadi Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan yang mengkaji tentang hakikat ilmu. Dimana ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai cirri-ciri tertentu yaitu yang bersifat konkrit yang artinya masalah tersebut terdapat dalam jangkauan pengalaman manusia. Selain bersifat konkrit, ilmu juga mempunyai ciri sifat lain, yaitu bersifat nyata yang artinya jawaban itu ada pada dunia nyata dan ilmu itu dimulai dari fakta dan diakhiri dengan fakta, dan dari ciri – ciri tersebut terdapat dalam ilmu, kita bisa mengetahui fungsi dari filsafat ilmu dan arah dari filsafat ilmu.
Filsafat ilmu mempelajari apakah objek yang ditelaah dalam ilmu, bagaimana proses mendapatkan ilmu dan apakah kegunaan ilmu tersebut. Objek atau hakekat sesuatu dipelajari dalam ontologi, cara mendapatkannya dipelajari dalan epistemologi, dan kegunaannya dipelajari dalam aksiologi. Dari kajian – kajian yang terdapat dalam ilmu filsafat ilmu kita bisa mengetahui kembali fungsi dari arah filsafat ilmu. Oleh karena itu fungsi filsafat ilmu adalah :
1. Untuk mengetahui objek apa saja yang ditela’ah dalam ilmu
2. untuk mengetahui tentang proses mendapatkan ilmu
3. untuk mengethui kegunaan dari ilmu tersebut
4. untuk mengetahui ciri – ciri tertentu dari cabang – cabang pengetahuan yang termasuk kedalam objek kajian dari filsafat ilmu.
Sedangkan arah dari filsafat ilmu adalah mengarahkan seseorang untuk mengkaji filsafat lebih dalam tentang hakikat sesuatu itu benar atau salah , baik atau buruk, indah atau jelek. yang masing – masing sifat tersebut dapat mengarahkan seseorang ahli filsafat untuk mengetahui tentang filsafat ilmu. Filsafat yang mengkaji tentang salah – benar disebut loga, filsafat yang mengkaji tentang baik – buruk disebut etika dan filsafat yang mengkaji tentang indah – jelek disebut estetika.
Ilmu merupakan suatu cara berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Berfikir bukan satu –satunya cara dalam mendapatkan pengetahuan. Demikian juga ilmu bukan satu –satunya produk dari kegiatan berfikir menurut langkah – langkah tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berfikir ilmiah. Berfikir ilmiah merupakan kegiatan berfikir yang memenuhi persyaratan – persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut pada hakikatnya mencakup dua kriteria utama yakni; pertama berpikir ilmiah harus mempunyai alur jalan fikiran yang logis, yang kedua pernyataan yang bersifat logis tersebut harus didukung oleh fakta empiris. Persyaratan pertama mengharuskan alur jalan pikiran kita untuk konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang telah ada sedangkan persyaratan kedua mengharuskan kita untuk menerima pernyataan yang didukung oleh fakta sebagai pernyataan yang benar secara ilmiah.
Pernyataan yang telah diuji kebenarannya ini kemudian diperkaya khasanah pengetahuan pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematik dan komulatif. Kebenaran ilmiah ini tidaklah bersifat mutlak sebab mungkin saja pernyataan yang sekarang logis kemudian akan bertentangan dengan ilmu pengetahuan ilmiah baru atau pernyataan yang sekarang didukung oleh fakta kemudian di tentang oleh penemuan baru, kebenaran ilmiah terbuka bagi koreksi dan penyempurnaan.
Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu . Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri .
1. Epistemologi.
Epistemology (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
c. Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d. Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.
e. Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melekukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.
2. Ontologi
Ontology merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.
Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
3. Aksiologi
Aksilogi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.
Pertanyaan di wilayah ini menyangkut, antara lain:
a) Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?
b) Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?
c) Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
d) Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional?
Filsafat ilmu dikenal sebagai disiplin tersendiri pada abad ke-20 sebagai akibat profesionalisasi dan spesialisasi ilmu-ilmu alam . Berfikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai pada hakikat, atau berpikir secara global (menyeluruh), atau berpikir dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berfikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berfikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Bahasan yang di cerna oleh ilmu filsafat sangat luas cakupannya. Poin yang utama ditujunya adalah mencari hakikat kebenaran segala sesuatu. Baik dalam kebenaran berfikir ( Logika ), kebenaran tingkah laku (Etika) Maupun dalam mencari hakikat sesuatu yang ada dibalik alam nyata (metafisika), sehingga persoalannya adalah apakah sesuatu itu hakiki (benar) atau maya (palsu).
Jadi Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan yang mengkaji tentang hakikat ilmu. Dimana ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai cirri-ciri tertentu yaitu yang bersifat konkrit yang artinya masalah tersebut terdapat dalam jangkauan pengalaman manusia. Selain bersifat konkrit, ilmu juga mempunyai ciri sifat lain, yaitu bersifat nyata yang artinya jawaban itu ada pada dunia nyata dan ilmu itu dimulai dari fakta dan diakhiri dengan fakta, dan dari ciri – ciri tersebut terdapat dalam ilmu, kita bisa mengetahui fungsi dari filsafat ilmu dan arah dari filsafat ilmu.
Filsafat ilmu mempelajari apakah objek yang ditelaah dalam ilmu, bagaimana proses mendapatkan ilmu dan apakah kegunaan ilmu tersebut. Objek atau hakekat sesuatu dipelajari dalam ontologi, cara mendapatkannya dipelajari dalan epistemologi, dan kegunaannya dipelajari dalam aksiologi. Dari kajian – kajian yang terdapat dalam ilmu filsafat ilmu kita bisa mengetahui kembali fungsi dari arah filsafat ilmu. Oleh karena itu fungsi filsafat ilmu adalah :
1. Untuk mengetahui objek apa saja yang ditela’ah dalam ilmu
2. untuk mengetahui tentang proses mendapatkan ilmu
3. untuk mengethui kegunaan dari ilmu tersebut
4. untuk mengetahui ciri – ciri tertentu dari cabang – cabang pengetahuan yang termasuk kedalam objek kajian dari filsafat ilmu.
Sedangkan arah dari filsafat ilmu adalah mengarahkan seseorang untuk mengkaji filsafat lebih dalam tentang hakikat sesuatu itu benar atau salah , baik atau buruk, indah atau jelek. yang masing – masing sifat tersebut dapat mengarahkan seseorang ahli filsafat untuk mengetahui tentang filsafat ilmu. Filsafat yang mengkaji tentang salah – benar disebut loga, filsafat yang mengkaji tentang baik – buruk disebut etika dan filsafat yang mengkaji tentang indah – jelek disebut estetika.
Ilmu merupakan suatu cara berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Berfikir bukan satu –satunya cara dalam mendapatkan pengetahuan. Demikian juga ilmu bukan satu –satunya produk dari kegiatan berfikir menurut langkah – langkah tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berfikir ilmiah. Berfikir ilmiah merupakan kegiatan berfikir yang memenuhi persyaratan – persyaratan tertentu. Persyaratan tersebut pada hakikatnya mencakup dua kriteria utama yakni; pertama berpikir ilmiah harus mempunyai alur jalan fikiran yang logis, yang kedua pernyataan yang bersifat logis tersebut harus didukung oleh fakta empiris. Persyaratan pertama mengharuskan alur jalan pikiran kita untuk konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang telah ada sedangkan persyaratan kedua mengharuskan kita untuk menerima pernyataan yang didukung oleh fakta sebagai pernyataan yang benar secara ilmiah.
Pernyataan yang telah diuji kebenarannya ini kemudian diperkaya khasanah pengetahuan pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematik dan komulatif. Kebenaran ilmiah ini tidaklah bersifat mutlak sebab mungkin saja pernyataan yang sekarang logis kemudian akan bertentangan dengan ilmu pengetahuan ilmiah baru atau pernyataan yang sekarang didukung oleh fakta kemudian di tentang oleh penemuan baru, kebenaran ilmiah terbuka bagi koreksi dan penyempurnaan.
C.SEJARAH
PERKEMBANGAN ILMU
Dalam sejarah perkembangannya sebagaimana yang terjadi di dunia Islam
dengan kelahiran mu’tazilah yang mengedepankan akal (rasio) sekitar (abad
2H/8M), di dunia Eropa juga lahir gerakan Aufklarung (abad 11 H/17 M). Kedua sisi
ini hendak merasionalkan agama. Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifatTuhan dan
Aufklarung menolak trinitas sebagai sifat Tuan. Alam Aufklarunginilah dalam
perkembangannya telah membuat peradaban Eropa menjurus padapemujaan akal.
Mereka berpendapat bahwa antara ilmu dan agama terjadipertentangan yang
keras, ilmu pengetahuan berkembang pada dunianya danagama pada dunia yang lain.
Dalam persoalan ini lahirlah sikap sekuleristik dalamilmu
pengetahuan.Liberalisasi, emensipasi, otonomi pribadi, dan otoritas rasio yang
begitudiagungkan merupakan nilai-nilai kejiwaan yang selalu mewarnai sikap
mentalmanusia Barat semenjak zaman renaissance (abad 15) dan Aufklaerung (abad
ke18) yang memungkinkan mereka melakukan tinggal landas mengarungi
dirgantarailmu pengetahuan yang tiada bertepi dengan hasil-hasil sebagaimana
merekamiliki hingga sekarang ini.Zaman perkembangan ilmu yang paling menentukan
dasar kemajuan ilmusekarang ini ialah sejak zaman sekarang ini ialah sejak abad
ke 17 dengandorongan beberapa hal: pertama : untuk mengembalikan keputusan
danpernyataan-pernyataan ilmiah lalu menonjolkan peranan matematik sebagai
saranapenunjang pemikiran ilmiah. Dalam angka inilah mulainya menonjol peranan
penggunaan angka Arab di Eropa (angka yang kita kenal di dunia sekarang)karena
dinilai lebih sederhana dan praktis dari pada angka –angka Romawi.Adapun
angka Arab itu sendiri dikembangkan dan berasal dari kebudayaan India.Faktor
yang kedua dalam revolusi ilmu di abad ke 17, ialah makin gigihnya parailmuwan
menggunakan pengamatan dan eksperimen, dalam membuktikankebenaran-kebenaran
preposisi ilmu.Namun J.B.Bury menyangkal bahwa kemajuan ilmu tidak terdapat
padaabad pertengahan bahkan tidak terdapat pada awal Renaissance ,tetapi baru
abadke -17, sebagai hasil dari rumusan Cartesius tentang dua aksioma yaitu :1)
berkuasanya akal manusia dan 2) tak berubah-ubahnya hukum alam.Perkembangan
pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradabanYunani .Oleh
karena itu periodesasi perkembangan ilmu disusun mulai dariperadaban Yunani
kemudian diakhiri pada penemuan-penemuan pada zamankontemporer. Secara singkat
periodesasi perkembangan ilmu dapat digambarkansebagai berikut :
A.Pra Yunani Kuno (abad 15-7 SM)
Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia. Yakni ketika belummengenal peralatan
seperti yang dipakai sekarang ini. Pada masa itu manusiamasih menggunakan batu
sebagai peralatan. Masa zaman batu berkisar antara4 juta tahun sampai 20.000
tahun sebelum masehi. Sisa peradaban manusiayang ditemukan pada masa ini antara
lain: alat-alat dari batu, tulang belulangdari hewan, sisa beberapa tanaman,
gambar-gambar digua-gua, tempat-tempatpenguburan, tulang belulang manusia
purba. Evolusi ilmu pengetahuan dapat diruntut melalui sejarah perkembangan
pemikiran yang terjadi di Yunani,Babilonia, Mesir, China, Timur Tengah dan
Eropa.
B.Zaman Yunani kuno (abad-7-2 SM)
Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karenapada
masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengeluarkan ide-ide ataupendapatnya,
Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudangnya ilmu danfilsafat, karena Yunani
pada masa itu tidak mempercayai mitologi-mitologi.Bangsa Yunani juga tidak
dapat menerima pengalaman-pengalaman yangdidasarkan pada sikap menerima saja
(receptive attitude) tetapi menumbuhkananquiring attitude (senang menyelidiki
secara kritis).Sikap inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai
ahli-ahlipikir yang terkenal sepanjang masa. Beberapa tokoh yang terkenal pada
masaini antara lain : Thales, Demokrates dan Aristoteles.
C.Zaman Pertengahan (Abad 2- 14 SM)
Zaman pertengahan (middle age) ditandai dengan para tampilnyatheolog di
lapangan ilmu pengetahuan. Ilmuwan pada masa ini adalah hampirsemuanya para
theolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitaskeagamaan. Atau
dengan kata lain kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran
agama. Semboyan pada masa ini adalah AnchilaTheologia (abdi agama). Peradaban
dunia Islam terutama abad 7 yaitu Zamanbani Umayah telah menemukan suatu cara
pengamatan stronomi, 8 abadsebelum Galileo Galilie dan Copernicus. Sedangkan
peradaban Islam yangmenaklukan Persia pada abad 8 Masehi, telah mendirikan
Sekolah kedokteran dan Astronomi di Jundishapur. Pada masa keemasan kebudayaan
Islam,dilakukan penerjemahan berbagai karya Yunani. Dan bahkan khalifahAl_Makmun
telah mendirikan rumah Kebijaksanaan (House of Wisdom) / Baitul
Hikmah pada abad 9. Pada abad ini Eropa mengalami zaman kegelapan(dark age).
D.Masa Renaissance (14-17 M)
Renaisance merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan danperubahan
yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan
dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaandan supremasi gereja
katolik Roma,bersamaan dengan berkembangnyahumanisme. Zaman ini juga merupakan
penyempurnaan kesenian, keahlian,dan ilmu yang diwujudkan dalam diri jenius
serba bisa, Leonardo Da Vinci.Penemuan percetakan (kira-kira 1440 M) oleh
kolumbus memberikandorongan lebih keras untuk meraih kemajuan ilmu. Kelahiran
kembali sastradi Inggris, Prancis, dan Spayol diwakili Shakespeare, Spencer,
Rabelais, danRonsard. Pada masa itu, seni musik juga mengalami perkembagan.
Adanyapenemuan para ahli perbintangan seperti Copernicus dan Galileo
menjadidasar munculnya astronomi modern yang merupakan titik balik
dalampemikiran ilmu dan filsafat.
Tidaklah mudah membuat garis batas yang tegas antara zamanRenaisance
dengan zaman modern. Sementara orang menganggap bahwazaman modernhanyalah
perluasan Renaisance. Akan tetapi, pemikiran ilmiah membawa manusia lebih maju
kedepan dengan kecepatan yang besar, berkatkemampuan-kemampuan yang dihasilkan
oleh masa-masa sebelumnya.Manusia maju dengan langkah raksasa dari zaman uap ke
zaman listrik,kemudian ke zaman atom, elektron, radio, televisi, roket dan
zaman ruangangkasa.
E. Perkembangan Filsafat Zaman Modern (17-19 M)
Zaman ini ditandai dengan berbagai dalam bidang ilmiah, serta filsafatdari
berbagai aliran muncul. Pada dasarnya corak secara keseluruhan
bercorak sufisme Yunani. Paham – paham yang muncul dalam garis
besarnya adalahRasionalisme, Idialisme, dengan Empirisme. Paham
Rasionalismemengajarkan bahwa akal itulah alat terpenting dalam memperoleh
danmenguji pengetahuan. Ada tiga tokoh penting pendukung rasionalisme ini,yaitu
Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Sedangkan aliran Idialisme mengajarkan hakekat
fisik adalah jiwa,spirit. Ide ini merupakan ide Plato yang memberikan jalan
untuk memperlajaripaham idealisme zaman modern. Para pengikut aliran/paham ini
padaumumnya, sumber filsafatnya mengikuti filsafat kritisisismenya
ImmanuelKant. Fitche (1762-1814) yang dijuluki sebagai penganut Idealisme
subyektif merupakan murid Kant. Sedangkan Scelling, filsafatnya dikenal
denganfilsafat Idealisme Objektif .Kedua Idealisme ini kemudian disintesakan
dalamFilsafat Idealisme Mutlak Hegel.
Pada Paham Empirisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu dalampikiran kita
selain didahului oleh pengalaman. ini bertolak belakang denganpaham
rasionalisme. Mereka menentang para penganut rasionalisme yangberdasarkan atas
kepastian-kepastian yang bersifat apriori. Pelopor aliran iniadalah Thomas
Hobes Jonh locke,dan David Hume.
F.Zaman Kontemporer
Yang dimaksud dengan zaman kontemporer adalah dalam kontek iniadalah era
tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang. Halyang membedakan
pengamatan tentang ilmu pada zaman sekarang adalahbahwa zaman modern adalah era
perkembangan ilmu yang berawal sejak sekitar abad ke-15, sedangkan
kontemporer memfokuskan sorotannya padaberbagai perkembangan terakhir yang
terjadi hingga saat sekarang. Beberapacontoh perkembangan ilmu kontemporer
adalah : Santri, Priyayi, danAbangan. Lebih lanjut Semenjak tahun 1960 filsafat
ilmu mengalamiperkembangan yang sangat pesat, terutama sejalan dengan
pesatnyaperkembangan ilmu dan teknologi yang ditopang penuh oleh
positivisme-empirik, melalui penelaahan dan pengukuran kuantitatif sebagai
andalanutamanya. Berbagai penemuan teori dan penggalian ilmu berlangsung
secaramengesankan.Pada periode ini berbagai kejadian dan peristiwa yang
sebelumnyamungkin dianggap sesuatu yang mustahil, namun berkat kemajuan ilmu
danteknologi dapat berubah menjadi suatu kenyataan. Bagaimana pada waktu
ituorang dibuat tercengang dan terkagum-kagum, ketika Neil Amstrong benar-benar
menjadi manusia pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.Begitu juga
ketika manusia berhasil mengembangkan teori rekayasa genetikadengan melakukan
percobaan cloning pada kambing, atau mengembangkancyber technology, yang
memungkinkan manusia untuk menjelajah duniamelalui internet. Semua keberhasilan
ini kiranya semakin memperkokohkeyakinan manusia terhadap kebesaran ilmu dan
teknologi. Memang, tidak dipungkiri lagi bahwa positivisme-empirik yang
serba matematik, fisikal,reduktif dan free of value telah membuktikan kehebatan
dan memperolehkejayaannya, serta memberikan kontribusi yang besar dalam
membangunperadaban manusia seperti sekarang ini.Namun, dibalik keberhasilan
itu, ternyata telah memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak sederhana,
dalam bentuk kekacauan, krisis danchaos yang hampir terjadi di setiap belahan
dunia ini. Alam menjadi marahdan tidak ramah lagi terhadap manusia, karena
manusia telah memperlakukandan mengexploitasinya tanpa memperhatikan
keseimbangan dankelestariannya. Berbagai gejolak sosial hampir terjadi di
mana-mana sebagaiakibat dari benturan budaya yang tak terkendali.Kesuksesan
manusia dalam menciptakan teknologi-teknologi raksasaternyata telah menjadi
bumerang bagi kehidupan manusia itu sendiri. Raksasa-raksasa teknologi yang
diciptakan manusia itu seakan-akan berbalik untuk menghantam dan menerkam
si penciptanya sendiri, yaitu manusia.Berbagai persoalan baru sebagai dampak
dari kemajuan ilmu danteknologi yang dikembangkan oleh kaum
positivisme-empirik, telah memunculkan berbagai kritik di kalangan ilmuwan
tertentu. Kritik yang sangat tajam muncul dari kalangan penganut “Teori Kritik
Masyarakat”,
Kritik terhadap positivisme, kurang lebih bertali temali dengan kritik
terhadapdeterminisme ekonomi, karena sebagian atau keseluruhan
bangunandeterminisme ekonomi dipancangkan dari teori pengetahuan
positivistik.Positivisme juga diserang oleh aliran kritik dari berbagai latar
belakang dandidakwa berkecenderungan meretifikasi dunia sosial. Selain itu
Positivismedipandang menghilangkan pandangan aktor, yang direduksi sebatas
entitas pasif yang sudah ditentukan oleh “kekuatan-kekuatan natural”.
Pandangan teoritikus kritik dengan kekhususan aktor, di mana mereka menolak ide
bahwaaturan aturan umum ilmu dapat diterapkan tanpa mempertanyakan tindakan
manusia. Akhirnya “ Teori Kritik Masyarakat” menganggap bahwa positivisme dengan
sendirinya konservatif, yang tidak kuasa menantangsistem yang eksis.Senada
dengan pemikiran di atas, Nasution (1996:4) mengemukan pulatentang kritik
post-positivime terhadap pandangan positivisme yang bercirikanfree of value,
fisikal, reduktif dan matematika.Aliran post-positivime tidak menerima adanya
hanya satu kebenaran,. Rich (1979) mengemukakan “There is no the truth nor a
truth – truth is notone thing, -or even a system. It is an increasing
completely” Pengalaman manusia begitu kompleks sehingga tidak mungkin untuk
diikat oleh sebuahteori. Freire (1973) mengemukakan bahwa tidak ada pendidikan
netral, maka tidak ada pula penelitian yang netral. Usaha untuk menghasilkan
ilmu sosial yang bebas nilai makin ditinggalkan karena tak mungkin tercapai dan
karena itu bersifat “self deceptive” atau penipuan diri dan digantikan
oleh ilmu sosial yang berdasarkan ideologi tertentu. Hesse (1980) mengemukakan
bahwa kenetralandalam penelitian sosial selalu merupakan problema dan hanya
merupakansuatu ilusi. Dalam penelitian sosial tidak ada apa yang disebut
“obyektivitas”.“ Knowledge is a’socially contitued’, historically embeded, and
valuationally.
Namun ini tidak berarti bahwa hasil penelitian bersifat
subyektif semata-mata, oleh sebab penelitian harus selalu dapat
dipertanggung- jawabkan secara empirik, sehingga dapat dipercaya dan
diandalkan.
D.LANDASAN
PENELAHAAN ILMU
Landasan Penelaahan Ilmu
Landasan pokok dalam penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek (ilmuan) .
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual .
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional? .
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
D. Keterkaitan Landasan Ontologi, Epistimologi dan aksiologi
Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan antar satu dengan lainnya.
E. Manfaat Landasan Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi dalam Penelaahan Ilmu
Untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (Ontologi)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (Epistimologi)? Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan (Aksiologi)? Dengan mengetahui ketiga jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam hasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita untuk mengenali berbagai pengetahuan yang ada, seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita tidak dapat memanfaatkan keguanaannya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya, seperti ilmu dikacaukan dengan seni, ilmu dikonfigurasikan dengan agama.
Landasan pokok dalam penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek (ilmuan) .
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual .
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional? .
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
D. Keterkaitan Landasan Ontologi, Epistimologi dan aksiologi
Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistimologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan antar satu dengan lainnya.
E. Manfaat Landasan Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi dalam Penelaahan Ilmu
Untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat diajukan adalah: apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (Ontologi)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (Epistimologi)? Serta untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan (Aksiologi)? Dengan mengetahui ketiga jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam hasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan kita untuk mengenali berbagai pengetahuan yang ada, seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita tidak dapat memanfaatkan keguanaannya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya, seperti ilmu dikacaukan dengan seni, ilmu dikonfigurasikan dengan agama.
E. SARANA BERFIKIR ILMIAH
1. Definisi Sarana Berpikir Ilmiah
Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses inimerupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus; sedangkan, deduksi ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi langkah-langkah (metode) ilmiah, atau membantu langkah-langkah ilmiah, untuk mendapatkan kebenaran. Fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah untuk mendapat ilmu atau teori yang lain.
a. Hal-hal yang perlu diperhatikan dari sarana berpikir ilmiah adalah :
Sarana berpikir ilmiah bukanlah ilmu, melainkan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.
b. Tujuan mempelajari metode ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana berpikir ilmiah yaitu bahasa, matematika, dan statistika.
Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif.Statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Salah satu langkah kearah penguasaan adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah.
2. Sarana Berpikir Ilmiah
a. Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Definisi bahasa menurut Jujun Suparjan Suriasumantri menyebut bahasa sebagai serangkaian bunyi dan lambang yang membentuk makna. Sedangkan dalam KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) bahasa ialah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Jadi bahasa menekankan bunyi, lambang, sistematika, komunikasi, dan alat.
Bahasa memiliki tujuh ciri sebagai berikut :Sistematis, yang berarti bahasa mempunyai pola atau aturan. Arbitrer (manasuka). Artinya, kata sebagai simbol berhubungan secara tidak logis dengan apa yang disimbolkannya. Ucapan/vokal.Bahasa berupa bunyi.Bahasa itu simbol.Kata sebagai simbol mengacu pada objeknya.Bahasa, selain mengacu pada suatu objek, juga mengacu pada dirinya sendiri.Artinya, bahasa dapat dipakai untuk menganalisis bahasa itu sendiri.Manusiawi, yakni bahasa hanya dimiliki oleh manusia.Bahasa itu komunikasi.Fungsi terpenting dari bahasa adalah menjadi alatkomunikasi dan interaksi.
a.1.Ciri-Ciri Bahasa Ilmiah
Bahasa ilmiah memiliki ciri-ciri tersendiri, yaitu informatif, reproduktif atau intersubjektif, dan antiseptik.
Informatif berarti bahwa bahasa ilmiah mengungkapan informasi atau§ pengetahuan. Informasi atau pengetahuan ini dinyatakan secara eksplisit dan jelas untuk menghindari kesalahpahaman.
Reproduktif adalah bahwa pembicara atau penulis menyampaikan informasi§ yang sama dengan informasi yang diterima oleh pendengar atau pembacanya.
Menurut Kemeny, antiseptik berarti bahwa bahasa ilmiah itu objektif dan tidak memuat unsur emotif, kendatipun pada kenyataannya unsur emotif ini sulit dilepaskan dari unsur informatif.
Slamet Iman Santoso mengimbuhkan bahwa bahasa ilmiah itu bersifat deskriptif (descriptive language).Artinya, bahasa ilmiah menjelaskan fakta dan pemikiran; dan pernyataan-pernyataan dalam bahasa ilmiah bisa diuji benar-salahnya. Beerling, Kwee, Mooij, Van Peursen menambahkan ciri intersubjektif,yaitu ungkapan-ungkapan yang dipakai mengandung makna-makna yang sama bagi para pemakainya.
a.2.Kelemahan Bahasa
Bahasa sangat vital bagi manusia dalam aktivitas ilmiah (maupun aktivitas non-ilmiah). Bahasa memperjelas cara berpikir manusia, maka orang yang terbiasa menulis dengan bahasa yang baik akan mempunyai cara berpikir yang lebih sistematis.
Kelemahan bahasa dalam menghambat komunikasi ilmiah yaitu :
Bahasa mempunyai multifungsi (ekspresif, konatif, representasional, informatif, deskriptif, simbolik, emotif, afektif) yang dalam praktiknya sukar untuk dipisah-pisahkan. Akibatnya, ilmuwan sukar untuk membuang faktor emotif dan afektifnya ketika mengomunikasikan pengetahuan informatifnya.
Kata-kata mengandung makna atau arti yang tidak seluruhnya jelas dan eksak.Bahasa sering kali bersifat sirkular (berputar-putar).Bahasa menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih maju ketimbang makhluk-makhluk lainnya.Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang sangat bermanfaat bagi aktivitas-aktivitas ilmiah. Di sisi lain, bahasa tidak alpa dari kelemahan-kelemahannya yang merintangi pencapaian tujuan dari aktivitas-aktivitas ilmiah. Kelemahan-kelemahan bahasa ini barangkali akan ditutupi oleh kelebihan-kelebihan dari dua sarana berpikir ilmiah lainnya, yaitu matematika dan statistika.
b. Matematika
Matematika memiliki struktur dengan keterkaitan yang kuat dan jelas satu dengan lainnya serta berpola pikir yang bersifat deduktif dan konsisten. Matematika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi ataupun pemecahan masalah.Pentingnya matematika tidak lepas dari perannya dalam segala jenis dimensi kehidupan.Mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa matematika justru lebih praktis, sistematis, dan efisien.Begitu pentingnya matematika sehingga bahasa matematika merupakan bagian dari bahasa yang digunakan dalam masyarakat.Hal tersebut menunjukkan pentingnya peran dan fungsi matematika, terutama sebagai sarana untuk memecahkan masalah baik pada matematika maupun dalam bidang lainnya.
Peranan matematika sebagai sarana berpikir ilmiah adalah dapat diperoleh kemampuan-kemampuan meliputi :
Menggunakan algoritma,v
Melakukan manipulasi secara matematika,v
Mengorganisasikan data,v
memanfatkan simbol, tabel, grafik, dan membuatnya,v
Mengenal dan menemukan pola,v
Menarik kesimpulan,v
Membuat kalimat atau model matematika,v
Membuat interpretasi bangun geometri,v
Memahami pengukuran dan satuanya,v
Menggunakan alat hitung dan alat bantu lainya dalam matematika, seperti tabel matematika, kalkulator, dan komputer.v
b.1. Kelebihan dan Kekurangan Matematika
Kelebihan matematika antara lain sebagai berikut :Tidak memiliki unsur emotifBahasa matematika sangat universal.Adapun kelemahan dari matematika adalah bahwa matematika tidak mengandungbahasa emosional (tidak mengandung estetika) artinya bahwa matematika penuhdengan simbol yang bersifat artifersial dan berlaku dimana saja.
c. Statistika
Statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.Konsep statistikasering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang pada dasarnya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil maka makin tinggi tingkat ketelitian tersebut dan sebaliknya.
d. Logika
Logika adalah sarana untuk berpikir sistematik, valid dan dapatdipertanggungjawabkan. Dalam arti luas logika adalah sebuah metode dan prinsip-prinsip yang dapat memisahkan secara tegas antara penalaran yang benar dengan penalaran yang salah.Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir.Berpikir membutuhkan jenis-jenis pemikiran yang sesuai.Logika dapat di sistemisasi dalam beberapa golongan:
Menurut Kualitas dibagi dua, yakni Logika Naturalis (kecakapan§ berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia) dan Logika Artifisialis (logika ilmiah) yang bertugas membantu Logika Naturalis dalam menunjukkan jalan pemikiran agar lebih mudah dicerna, lebih teliti, dan lebih efisien.
Menurut Metode dibagi dua yakni Logika Tradisional yakni logika yang mengikuti aristotelian dan Logika Modern§
Menurut Objek dibagi dua yakni Logika Formal (deduktif dan induktif) dan Logika Material.§
3. Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika,Matematika, Dan Statistika
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.
Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses inimerupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus; sedangkan, deduksi ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi langkah-langkah (metode) ilmiah, atau membantu langkah-langkah ilmiah, untuk mendapatkan kebenaran. Fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah untuk mendapat ilmu atau teori yang lain.
a. Hal-hal yang perlu diperhatikan dari sarana berpikir ilmiah adalah :
Sarana berpikir ilmiah bukanlah ilmu, melainkan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.
b. Tujuan mempelajari metode ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana berpikir ilmiah yaitu bahasa, matematika, dan statistika.
Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif.Statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Salah satu langkah kearah penguasaan adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah.
2. Sarana Berpikir Ilmiah
a. Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Definisi bahasa menurut Jujun Suparjan Suriasumantri menyebut bahasa sebagai serangkaian bunyi dan lambang yang membentuk makna. Sedangkan dalam KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) bahasa ialah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Jadi bahasa menekankan bunyi, lambang, sistematika, komunikasi, dan alat.
Bahasa memiliki tujuh ciri sebagai berikut :Sistematis, yang berarti bahasa mempunyai pola atau aturan. Arbitrer (manasuka). Artinya, kata sebagai simbol berhubungan secara tidak logis dengan apa yang disimbolkannya. Ucapan/vokal.Bahasa berupa bunyi.Bahasa itu simbol.Kata sebagai simbol mengacu pada objeknya.Bahasa, selain mengacu pada suatu objek, juga mengacu pada dirinya sendiri.Artinya, bahasa dapat dipakai untuk menganalisis bahasa itu sendiri.Manusiawi, yakni bahasa hanya dimiliki oleh manusia.Bahasa itu komunikasi.Fungsi terpenting dari bahasa adalah menjadi alatkomunikasi dan interaksi.
a.1.Ciri-Ciri Bahasa Ilmiah
Bahasa ilmiah memiliki ciri-ciri tersendiri, yaitu informatif, reproduktif atau intersubjektif, dan antiseptik.
Informatif berarti bahwa bahasa ilmiah mengungkapan informasi atau§ pengetahuan. Informasi atau pengetahuan ini dinyatakan secara eksplisit dan jelas untuk menghindari kesalahpahaman.
Reproduktif adalah bahwa pembicara atau penulis menyampaikan informasi§ yang sama dengan informasi yang diterima oleh pendengar atau pembacanya.
Menurut Kemeny, antiseptik berarti bahwa bahasa ilmiah itu objektif dan tidak memuat unsur emotif, kendatipun pada kenyataannya unsur emotif ini sulit dilepaskan dari unsur informatif.
Slamet Iman Santoso mengimbuhkan bahwa bahasa ilmiah itu bersifat deskriptif (descriptive language).Artinya, bahasa ilmiah menjelaskan fakta dan pemikiran; dan pernyataan-pernyataan dalam bahasa ilmiah bisa diuji benar-salahnya. Beerling, Kwee, Mooij, Van Peursen menambahkan ciri intersubjektif,yaitu ungkapan-ungkapan yang dipakai mengandung makna-makna yang sama bagi para pemakainya.
a.2.Kelemahan Bahasa
Bahasa sangat vital bagi manusia dalam aktivitas ilmiah (maupun aktivitas non-ilmiah). Bahasa memperjelas cara berpikir manusia, maka orang yang terbiasa menulis dengan bahasa yang baik akan mempunyai cara berpikir yang lebih sistematis.
Kelemahan bahasa dalam menghambat komunikasi ilmiah yaitu :
Bahasa mempunyai multifungsi (ekspresif, konatif, representasional, informatif, deskriptif, simbolik, emotif, afektif) yang dalam praktiknya sukar untuk dipisah-pisahkan. Akibatnya, ilmuwan sukar untuk membuang faktor emotif dan afektifnya ketika mengomunikasikan pengetahuan informatifnya.
Kata-kata mengandung makna atau arti yang tidak seluruhnya jelas dan eksak.Bahasa sering kali bersifat sirkular (berputar-putar).Bahasa menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih maju ketimbang makhluk-makhluk lainnya.Bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang sangat bermanfaat bagi aktivitas-aktivitas ilmiah. Di sisi lain, bahasa tidak alpa dari kelemahan-kelemahannya yang merintangi pencapaian tujuan dari aktivitas-aktivitas ilmiah. Kelemahan-kelemahan bahasa ini barangkali akan ditutupi oleh kelebihan-kelebihan dari dua sarana berpikir ilmiah lainnya, yaitu matematika dan statistika.
b. Matematika
Matematika memiliki struktur dengan keterkaitan yang kuat dan jelas satu dengan lainnya serta berpola pikir yang bersifat deduktif dan konsisten. Matematika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi ataupun pemecahan masalah.Pentingnya matematika tidak lepas dari perannya dalam segala jenis dimensi kehidupan.Mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa matematika justru lebih praktis, sistematis, dan efisien.Begitu pentingnya matematika sehingga bahasa matematika merupakan bagian dari bahasa yang digunakan dalam masyarakat.Hal tersebut menunjukkan pentingnya peran dan fungsi matematika, terutama sebagai sarana untuk memecahkan masalah baik pada matematika maupun dalam bidang lainnya.
Peranan matematika sebagai sarana berpikir ilmiah adalah dapat diperoleh kemampuan-kemampuan meliputi :
Menggunakan algoritma,v
Melakukan manipulasi secara matematika,v
Mengorganisasikan data,v
memanfatkan simbol, tabel, grafik, dan membuatnya,v
Mengenal dan menemukan pola,v
Menarik kesimpulan,v
Membuat kalimat atau model matematika,v
Membuat interpretasi bangun geometri,v
Memahami pengukuran dan satuanya,v
Menggunakan alat hitung dan alat bantu lainya dalam matematika, seperti tabel matematika, kalkulator, dan komputer.v
b.1. Kelebihan dan Kekurangan Matematika
Kelebihan matematika antara lain sebagai berikut :Tidak memiliki unsur emotifBahasa matematika sangat universal.Adapun kelemahan dari matematika adalah bahwa matematika tidak mengandungbahasa emosional (tidak mengandung estetika) artinya bahwa matematika penuhdengan simbol yang bersifat artifersial dan berlaku dimana saja.
c. Statistika
Statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.Konsep statistikasering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. Statistika memberikan cara untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yang pada dasarnya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni makin besar contoh yang diambil maka makin tinggi tingkat ketelitian tersebut dan sebaliknya.
d. Logika
Logika adalah sarana untuk berpikir sistematik, valid dan dapatdipertanggungjawabkan. Dalam arti luas logika adalah sebuah metode dan prinsip-prinsip yang dapat memisahkan secara tegas antara penalaran yang benar dengan penalaran yang salah.Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir.Berpikir membutuhkan jenis-jenis pemikiran yang sesuai.Logika dapat di sistemisasi dalam beberapa golongan:
Menurut Kualitas dibagi dua, yakni Logika Naturalis (kecakapan§ berlogika berdasarkan kemampuan akal bawaan manusia) dan Logika Artifisialis (logika ilmiah) yang bertugas membantu Logika Naturalis dalam menunjukkan jalan pemikiran agar lebih mudah dicerna, lebih teliti, dan lebih efisien.
Menurut Metode dibagi dua yakni Logika Tradisional yakni logika yang mengikuti aristotelian dan Logika Modern§
Menurut Objek dibagi dua yakni Logika Formal (deduktif dan induktif) dan Logika Material.§
3. Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika,Matematika, Dan Statistika
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar